Bupati sintang mengatakan “ada 1,2 juta Ha dikabupaten Sintang, 970 ribu Ha masih berpenutupan sangat baik. Ada kawasan-kawasan yang perlu dikonfirmasi terkait adanya 41 Desa didalam kawasan hutan klaim masyarakat adat, illegal logging, serta perambahan. Ada 61 ribu Ha yang masih berhutan tetapi bukan didalam kawasan hutan melainkan areal penggunaan lain (APL)”.

Kepala Balai Besar memberikan materi dengan judul “Pemanfaatan Teknologi Revolusi Industri 4.0 Dalam Pengendalian Kebakaran Hutan Di Taman Nasional Betung Kerihun Dan Taman Nasional Danau Sentarum”.  Dimana Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum memanfaatkan teknologi revolusi industri 4.0 untuk mengetahui kondisi kawasan lebih detil dan akurat serta cepat, mengantisipasi tingkat kerusakan yang disebabkan oleh alam dan manusia, mengembangkan pola kerja yang lebih efektif dan effisien, serta untuk berkomunikasi dan menciptakan keterbukaan data dengan masyarakat luas terkait pengelolaan kawasan dan pengendalian kebakaran hutan.

“Tiga pilar Konservasi yaitu Perlindungan, Pengawetan serta Pemanfaatan sangat penting untuk menjadikan Hutan yang lestari, dengan begitu keberadaan hutan dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat melaluli pengelolaan hutan yang bijak dan lestari”. Tegas Arif Mahmud selaku narasumber.

Pemilihan tema seminar sebagai bentuk respon kemajuan teknologi komunikasi dan informasi yang dikenal dengan nama Revolusi Industri 4.0 yang diyakini bahwa pemanfaatan industri tersebut akan sangat membantu upaya mengendalikan kerusakan hutan dan menjaga kelestarian fungsinya sekaligus memberi edukasi terhadap semua lapisan masyarakat dalam mewujudkan hutan lestari masyarakat sejahtera.

Balai Besar Tana Bentarum Turut Sukseskan Seminar Nasional Kehutanan

Sintang, 11 Februari 2020. Kepala Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum) hadiri Seminar Nasional Kehutanan yang dilaksanakan di Pendopo Bupati Sintang, sekaligus sebagai narasumber dalam acara yang bertema Pengelolaan Hutan Lestari Berbasis Indrustrialisasi 4.0 yang diselenggarakan oleh Universitas Kapuas Sintang (UNKA).

Acara pembukaan seminar ini dihadiri oleh Bupati Sintang Dr. Jarot Winarno, M.Med.,Ph, Dirjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan (PKTL) Prof. Dr. Ir,  Sigit Hardwinarto, M. Agr,  Sekditjen PKTL KLHK Ir. Kustanta Budi Prihatno, M. Eng, Kepala LLDikti Wil XI Kalimantan Prof, dr, ir, H.  Udiansyah, M. Si,  Guru Besar Fahutan Untan Pontianak Prof. Dr. Ir, H. Abdurrani muin, M. Si, Kepala Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum Ir Arief Mahmud, M. Si, Kepala Balai TN Bukit Baka Bukit Raya Agung Nugroho, S.Si.,MA, Rektor Universitas Kapuas Sintang Dr Antonius, S. Hut,  MP,  serta rombongan UNDP Jakata, Kalimantan Forest, dan peserta seminar nasional yang berkisar kurang lebih 350 orang.

Bupati sintang mengatakan “ada 1,2 juta Ha dikabupaten Sintang, 970 ribu Ha masih berpenutupan sangat baik. Ada kawasan-kawasan yang perlu dikonfirmasi terkait adanya 41 Desa didalam kawasan hutan klaim masyarakat adat, illegal logging, serta perambahan. Ada 61 ribu Ha yang masih berhutan tetapi bukan didalam kawasan hutan melainkan areal penggunaan lain (APL)”.

Kepala Balai Besar memberikan materi dengan judul “Pemanfaatan Teknologi Revolusi Industri 4.0 Dalam Pengendalian Kebakaran Hutan Di Taman Nasional Betung Kerihun Dan Taman Nasional Danau Sentarum”.  Dimana Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum memanfaatkan teknologi revolusi industri 4.0 untuk mengetahui kondisi kawasan lebih detil dan akurat serta cepat, mengantisipasi tingkat kerusakan yang disebabkan oleh alam dan manusia, mengembangkan pola kerja yang lebih efektif dan effisien, serta untuk berkomunikasi dan menciptakan keterbukaan data dengan masyarakat luas terkait pengelolaan kawasan dan pengendalian kebakaran hutan.

“Tiga pilar Konservasi yaitu Perlindungan, Pengawetan serta Pemanfaatan sangat penting untuk menjadikan Hutan yang lestari, dengan begitu keberadaan hutan dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat melaluli pengelolaan hutan yang bijak dan lestari”. Tegas Arif Mahmud selaku narasumber.

Pemilihan tema seminar sebagai bentuk respon kemajuan teknologi komunikasi dan informasi yang dikenal dengan nama Revolusi Industri 4.0 yang diyakini bahwa pemanfaatan industri tersebut akan sangat membantu upaya mengendalikan kerusakan hutan dan menjaga kelestarian fungsinya sekaligus memberi edukasi terhadap semua lapisan masyarakat dalam mewujudkan hutan lestari masyarakat sejahtera.

 

0
0
0
s2sdefault