Rangkaian kegiatan berlangsung selama tiga hari. Pada kesempatan tersebut, kelompok anyaman yang didominasi kaum ibu-ibu ini mendapatkan berbagai pengalaman baru tentunya. Mulai dari diskusi model anyaman yang digemari pasar lokal maupun mancanegara sampai dengan terjun langsung dalam proses pembuatan warna dan pewarnaan serat menggunakan bahan alam. Beberapa serat yang digunakan yaitu serat rotan, bambu, perupuk, bembun, dan sejenisnya. Sedangkan untuk bahan alamnya, sebagian besar diperoleh dari dalam kawasan hutan Taman Nasional Betung Kerihun seperti Rambutan (Nephelium sp.), Jambu Monyet (Bellucia pentamera Naudin), Belimbing (Averrhoa sp.), Jambu Bji (Psidium guajava), Mangga (Mangifera sp.), Tahum (Indigofera marsdenia L.), Secang (Caesalpinia sappan), dan lain-lain.

Jika kita mengeksplorasi kerajinan anyaman di pulau Kalimantan, maka kita akan mengetahui betapa potensialnya produk anyaman yang tersebar di pulau dengan julukan ‘seribu sungai’ tersebut. Kerajinan anyaman di desa Bungan Jaya telah diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang suku punan hovongan. Sayangnya, anyaman tersebut sebagian besar hanya digunakan untuk keperluan sehari-hari. 

Mengikuti perkembangan tren saat ini, kerajinan anyaman cukup digemari karena mengusung konsep back to nature. Namun secara nasional, peluang bisnis ini belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, sejak zaman dahulu kehidupan masyarakat nusantara sudah sangat lekat dengan kerajinan anyaman. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan bangunan, perabotan, dan perkakas rumah tangga.

Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum

0
0
0
s2sdefault