Pameran Virtual Program Kampung Iklim dengan tema “Gaya Hidup Berkelanjutan dan Solusi Pengendalian Perubahan Iklim di Tingkat Tapak” ini sebagai wadah untuk mengedukasi masyarakat akan pentingnya melakukan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di tingkat tapak atau wilayah.

“Salah satu bentuk mitigasi perubahan iklim Desa Mensiau adalah pemanfaatan sumber energi cahaya matahari menggunakan panel surya untuk memasok kebutuhan listrik masyarakat. Selain dapat listrik secara gratis, energi listrik yang digunakan bersifat ramah lingkungan” ungkap Silvester Berasap, Kepala Desa Mensiau dan penggerak PROKLIM Desa Mensiau.

Terdapat kegiatan mitigasi lainnya yang juga diterapkan oleh masyarakat Desa Mensiau yaitu pembukaan lahan tanpa bakar (PLTB) dengan cara mengolah limbah kayu menjadi cuka kayu untuk pupuk cair dan disinfektan alami. “Pengetahuan tentang PLTB kami dapatkan dari kawan-kawan TNBK yang memberikan pelatihan pada kami tentang cara pemanfaatan limbah kayu menjadi cuka kayu dan desinfektan alami, serta mitra dari Forclime FC untuk penerapannya pada budidaya sayuran melalui skema holtikultura dan agroforestry” tambah Silvester Berasap.

“Kawasan konservasi di Indonesia cukup luas yang tentunya sangat berperan dalam adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Sebagian masyarakat tinggal di dalam maupun sekitar kawasan konservasi memanfaatkan sumber daya hutan. Saat ini, strategi kami bersama dengan masyarakat di sekitar dan dalam kawasan konservasi, khususnya TaNa Bentarum melaksanakan kegiatan pemanfaatan hutan secara lestari” tutur Kepala Balai Besar TaNa Bentarum, Ir. Arief Mahmud, M. Si.

Arief juga berharap PROKLIM dengan aksi-akasi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim ini dapat diterapkan di desa-desa di dalam maupun penyangga kawasan konservasi agar masyarakat sejahtera, kawasan hutan lestari dan terjaga.

Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum

0
0
0
s2sdefault