Mataso, 14 Mei 2020. Pandemi COVID-19 telah menimbulkan dampak global yang serius pada hampir semua sektor kehidupan termasuk ekonomi. Tidak hanya dirasakan di daerah perkotaan yang padat penduduk, tetapi juga daerah pedesaan. Bahan-bahan pangan seperti beras, sayur, dan lauk-pauk semakin sulit didapatkan karena adanya pembatasan akses yang diterapkan dan menyebabkan kesulitan bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-sehari.

Putussibau, 13 Mei 2020. Tim Bidang Teknis Konservasi Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum) dengan personil Bidang Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wilayah III Lanjak melakukan monitoring fungsi untuk mendukung rencana evaluasi zonasi pengelolaan di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS). Fokus lokasi kegiatan terbagai dalam 4 wilayah, dimana wilayah Resort Lupak Mawang, Resort Semangit, Resort Sepandan dan Resort Pulau Majang menjadi skala prioritas kegiatan. Target prioritas ini didasarkan atas adanya data dan informasi dari para pemangku kawasan di tingkat tapak, dimana seiring waktu telah terjadinya beberapa perubahan dalam zona pengelolaan di wilayah kerjanya.

“Target dalam kegiatan monitoring fungsi kawasan TNDS adalah zona pengelolaan Taman Nasional di wilayah kerja TNDS, dengan tujuan melakukan pemantauan kondisi eksisting fungsi kawasan” ungkap Ardi Andono, selaku Kepala Bidang Teknis Konservasi.

Ade Arief menyampaikan bahwa untuk penyemprotan disinfektan dilakukan dengan menggunakan cairan cuka kayu, dimana cuka kayu tersebut merupakan hasil olahan kayu yang dilakukan oleh Manggala Agni Brigdalkarhut Balai Besar Tana Bentarum sebagai upaya alternatif dalam penyiapan lahan tanpa membakar. Penyemprotan disinfektan dilakukan pada tempat yang biasanya ramai orang berkumpul, tempat-tempat ibadah dan ruang publik.

 

Putussibau, 11 Mei 2020. Konservasi Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) menjadi prioritas meski Indonesia saat ini sedang dilanda Pandemi Covid-19. Dalam kondisi tersebut Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (Tana Bentarum) memprakarsai grand design pengelolaan satwa liar Langur Borneo (Presbytis chrysomelas ssp. cruciger) yang terancam punah.

“Status Langur Borneo per tahun 2000, menunjukkan bahwa Langur Borneo masuk dalam kategori Data Deficient (DD) yang artinya data mengenai spesies ini masih minim baik di tingkat Nasional bahkan Internasional, hingga saat ini untuk di Indonesia Langur Borneo hanya tercatat di Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS)”  jelas Koordinator Fungsional, Aripin.

 

Putussibau, 8 Mei 2020. SMK Kehutanan Negeri (SMKKN) Samarinda merupakan lembaga pendidikan formal tingkat menengah kejuruan yang memiliki tujuan menyiapkan peserta didik dalam mendukung pembangunan kehutanan. Sistem pendidikan SMK Kehutanan Negeri Samarinda merupakan bentuk kerja sama antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan Kementerian Pendidikan Nasional yang telah berhasil meluluskan ratusan siswa(i) setiap tahunnya.

Setelah menyelenggarakan seleksi penerimaan siswa(i) SMKKN Samarinda mulai dari Test Tertulis/Teori, Test Fisik, Test Kesehatan, Psikotest dan Wawancara, serta Pemeriksaan Penyakit hingga melaksanakan proses belajar mengajar selama 3 tahun, Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (Tana Bentarum) melakukan pemantauan secara rutin mengenai perkembangan siswa mulai dari masuk hingga lulus.