Putussibau, 24 Juni 2020 - Yayasan Kehati, TFCA Kalimantan bersama Yayasan Rangkong Indonesia dan Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum), selenggarakan webinar “Upaya Konservasi Rangkong Gading (Rhinoplax vigil) di Kapuas Hulu”, dengan narasumber Yokyok Hadiprakarsa dari Rangkong Indonesia, Ir. Arief Mahmud, M.Si selaku Kepala Balai Besar TaNa Bentarum dan Prof. Ani Mardiastuti, Dosen IPB-Bogor.

“Upaya konservasi Rangkong Gading di Kapuas Hulu merupakan suatu bentuk komitmen program Yayasan Kehati dan TFCA Kalimantan yang terlibat dalam penyusunan SRAK Rangkong Gading dan merupakan bagian dari pembelajaran dalam upaya konservasi Rangkong Gading di wilayah Kapuas Hulu” jelas Riki Direktur Eksekusif Yayasan Kehati dalam pembukaan webinar

Rangkong Indonesia melalui program TFCA Kalimantan melakukan konservasi Rangkong sejak tahun 2018 sampai saat ini melalui kegiatan survey populasi, okupansi, survey persepsi masyarakat dan penguatan kapasitas di tapak Kapuas Hulu. “Hasil survey populasi rangkong dan Knowledge Attitude dan Practices (KAP) di Kapuas Hulu mencakup 56.214 Ha dengan keterlibatan 80 masyarakat lokal, 9 volunteer, dan 8 staff Balai Besar TaNa Bentarum dilakukan di 98 titik pengamatan selama 426 jam pengamatan ditemukan 1.008 perjumpaan dengan total 8 jenis yang teramati dan sebanyak 86,9 % teramati melalui perjumpaan suara” jelas Yoyok dalam paparannya.

Sementara Arief Mahmud menyampaikan bahwa bentang kawasan TN. Betung Kerihun dan TN. Danau Sentarum memiliki tutupan lahan yang masih alami dan bagus sebagai habitat burung Rangkong, khususnya Rangkong Gading (Rhinoplax vigil). “Sejak tahun 2014, kami sendiri telah melakukan monitoring populasi Rangkong dengan pendekatan habitat di Sub DAS Embaloh, Sub DAS Sibau dan Sub DAS Mendalam dengan hasil tercatat 8 jenis Rangkong di Kalimantan ditemukan di kawasan TN. Betung Kerihun, diantaranya jenis Rangkong Gading, Enggang Cula, Julang Emas, Julang Jambul Hitam, Enggang Jambul, Kangkareng Perut Putih, Kangkareng Hitam, dan Enggang Klihingan” pungkas Arief diakhir paparannya.

Hal senada juga disampaikan Prof. Ani, bahwa untuk dapat melihat dan menjumpai 8 jenis Rangkong Kalimantan bisa diperoleh dengan melakukan survey di bentang alam TN. Betung Kerihun. “Upaya konservasi Rangkong Gading di Kapuas Hulu yang dilakukan Yayasan Rangkong Indonesia melalui program TFCA Kalimantan bersama Balai Besar TaNa Bentarum sudah tepat dalam menjaga dan melindungi populasi Rangkong Gading yang saat ini menuju kepunahan di alam” ungkapnya.

Program penyusunan Rencana Pengelolaan Rangkong di kawasan TN. Betung Kerihun dan TN. Danau Sentarum sebagai langkah yang tepat dan menjadi harapan besar dalam upaya konservasi jenis burung Rangkong di wilayah Kapuas Hulu sebagai Kabupaten Konservasi.

0
0
0
s2sdefault