Potensi Kawasan

POTENSI KAWASAN

TAMAN NASIONAL BETUNG KERIHUN DAN DANAU SENTARUM
  1. POTENSI TAMAN NASIONAL BETUNG KERIHUN

1.KEANEKARAGAMAN FLORA TAMAN NASIONAL BETUNG KERIHUN

Kawasan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) merupakan salah satu sumber keanekaragaman hayati di Pulau Kalimantan. Sejumlah catatan dari para peneliti, menunjukan kekayakaan keanekaragaman hayati di semua tingkat/ Di level ekosistem, kawasan TNBK dikelompokkan menjadi 8 tipe ekosistem. Data lebih lengkap ditunjukan pada keragamahan hayati level spesies. Tidak kurang 1.216 jenis flora dan 652 jenis gfauna sudah teridentifikasi. Dengan luas wilayahnya, jumlah ini masih berpotensi besar untuk bertambah, Apabila ditambah penelitian genetik, maka kekayaan hayati TNBK akan lebih tinggi lagi.

Tercatat 695 jenis pohon yang tergolong dalam 15 marga, dan 63 suku yang 50 jenis diantaranya merupakan jenis endemik Pulau Borneo (Partomihardjo et al. 1998). Keanekaragaman kelompok palem cukup tinggi dan beberapa diantaranya merupakan jenis baru. Telah diidentifikasi sebanyak 60 species yang tergolong dalam 17 marga (Mogea 1998). Jenis  Rheofita dan Tumbuhan Lantai Hutan yaitu daerah pinggiran sungai yang terpengaruh oleh pasang surutnya permukaan air diantaranya Myrmenauclea sp., Pandanus sp., Ficus sp.,Acorus sp., Schefflera sp.,dan Saurauia sp.  Sedangkan jenis yang umum tumbuh di lantai hutan adalah Cyrtandra spp., Begonia spp., Urophyllum spp., Pinanga spp., Calamus spp., Pandanus sp. dan beberapa jenis dari suku Euphorbiaceae. Khusus mengenai anggrek telah diidentifikasi 89 jenis yang tergolong dalam 40 marga (Gandawidjaja 1998). Dari kelompok tumbuhan rendah diidentifikasi sebanyak 12 jenis jamur dan 133 jenis lumut/Briofita yang tergolong dalam tiga kelas (Sujatmiko 1998). Kelompok lumut yang masuk kelas Hepaticopsida terdiri atas 19 suku dan 65 jenis, kelas Anthocerotopsida terdiri satu suku dan dua jenis, dan yang masuk kelas Bryopsida terdiri atas 19 suku dan 66 jenis. Keanekaragaman lumut di daerah ini memang sangat tinggi karena bila dibandingkan dengan hutan tropis di Kilimanjaro, Afrika hanya mempunyai 20 jenis lumut epifit dan dari kawasan Amerika Latin (Siera Maestra di Cuba dan Andes di Bolivia) hanya dijumpai 28 jenis.

2. KEANEKARAGAMAN FAUNA TAMAN NASIONAL BETUNG KERIHUN

Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) memiliki potensi keanekaragaman satwaliar yang tinggi. Laporan beberapa hasil inventarisasi yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa TNBK memiliki keanekaragaman jenis burung, mamalia, reptilia dan herpetofauna yang tinggi. Pada kelompok burung ini dihasilkan sebanyak 301 jenis yang tergolong dalam 151 marga dan 36 suku (Raharjaningtrah & Prayogo 1998). Sebanyak 63 jenis burung yang ditemui di TNBK merupakan burung yang dilindungi oleh undang-undang, termasuk didalamnya adalah maskot Provinsi Kalimantan Barat yaitu Enggang Gading (Buceros vigil).Potensi keanekaragaman jenis mamalia di TNBK diketahui tidak kurang dari 48 jenis mamalia ditemukan di TNBK (TNBK 2000). TNBK juga diketahui memiliki sedikitnya 18 jenis kelompok kelelawar (Chiroptera) dan 17 jenis kelompok pengerat. Setidaknya ada 7 jenis primata ditemukan di TNBK diantaranya Orangutan (Pongo pygmaeus pygmaeus) dan Kelampiau (Hylobates muelleri).

Dari keragaman jenis ikan terdapat 112 jenis yang tergolong dalam 41 marga dan 12 suku (Rachmatika & Haryono 1998). Sementara keragaman herpetofauna di TNBK setidaknya terdapat 51 jenis amfibi, 26 jenis kadal, 2 jenis buaya, 3 jenis kura-kura, dan 21 jenis ular. Survei serangga di TNBK baru pertama kali dilakukan dan ternyata keanekaragaman jenisnya sangat tinggi. Tidak kurang dari 170 jenis yang teridentifikasi terdapat hal-hal yang menarik bahkan ada jenis baru dari Coleoptera yaitu Niasia bukat Reid Spec. Nova (Reid 1998), juga temuan marga baru (Reid 1996).

  1. POTENSI TAMAN NASIONAL DANAU SENTARUM

1. KEANEKARAGAMAN FAUNA TAMAN NASIONAL DANAU SENTARUM

Kawasan TNDS juga mempunyai keanekaragaman fauna yang cukup tinggi diantaranya terdapat Mamalia sebanyak 147 jenis dimana 32 jenis diantaranya merupakan jenis yang dilindungi seperti orangutan (Pongo pygmeus pygmaeus), Macan Dahan (Neofelis nebulosa), Beruang Madu (Helarctos malayanus), Bekantan (Nasalis larvatus) dll. Hampir 64% mamalia Kalimantan terdapat di kawasan TNDS ini. Jenis lain seperti reptile terdapat 56 jenis, dimana 8 jenis diantaranya merupakan jenis dilindungi diantaranya Buaya Muara (Crocodylus porosus) dan Buaya Sinyulong (Tomistoma schlegelii). Aves sebanyak 311 jenis dan 53 jenis diantaranya merupakan jenis yang dilindungi serta jenis yang sudah langka seperti Bangau Hutan Rawa (Ciconia stormi). Sekitar 61% burung Kalimantan atau lebih dari 12% burung yang pernah ditemukan di Indonesia terdapat disini.

Kawasan TNDS juga mempunyai keanekaragaman jenis ikan air tawar yang sangat tinggi yang bernilai ekonomis, baik sebagai ikan konsumsi maupun sebagai ikan hias. Beberapa jenis ikan konsumsi yang disukai masyarakat adalah belida (Notopterus borneensis), baung (Mystus nemurus), lais jungang (Kryptopterus apogon), tapah (Wallago leerii), ringau (Datniodes microlepis), kedebuk/ikan bodoh (Oxyeleotris marmorata), toman (Channa micropeltes) dan jelawat (Leptobarbus hoevenii). Jenis ikan hias yang dihasilkan yaitu ikan Ulanguli (Botia macracantha), Ikan Ringau (Colus microlepis) dan ikan Siluk merah (Sclerophages formosus) yang merupakan jenis endemic di Kawasan TNDS.

Kawasan TN. Danau Sentarum merupakan habitat lebah madu hutan (Apis dorsata) yang sanggup menyediakan madu 15-20 ton per tahun, atau dinilai dengan uang kisaran 1,5 – 2 milyar rupah pertahun. . Hampir 28.000 ha dari luas kawasan TNDS dimanfaatkan oleh petani madu. Produksi menjadi meningkat karena adanya organisasi kelompok periau. Sistem pengawasan mutu internal diterapkan oleh 453 petani dari 21 kelompok periau untuk diolah menjadi madu organik.

2. KEANEKARAGAMAN FLORA TAMAN NASIONAL DANAU SENTARUM

Sebagian besar vegetasi di kawasan TNDS terdiri atas berbagai spesies tanaman dan semak belukar yang mempunyai kemampuan beradaptasi di daerah yang hampir selalu digenangi air sepanjang tahun. Dalam bulan-bulan basah tanaman semak tersebut dapat hampir seluruhnya terendam air.

Terdapat 7 type ekosistem yaitu Hutan Rampak Gelagah (Hutan Rawa Kerdil), Hutan Gelagah (Hutan Rawa Terhalang), Hutan Pepah (Hutan Rawa Tegakan), Hutan Tepian (Hutan Riparian), Hutan Rawa Gambut, Hutan Dataran Rendah Perbukitan dan Hutan Kerangas. Terdata 675 Jenis flora yang tergolong dalam 97 Familia, Dari jumlah tersebut 33 jenis merupakan jenis endemic dan 10 jenis merupakan jenis baru. Kekayaan jenis Anggrek di kawasan TNDS ini tedata 154 jenis.

Selain tipe-tipe hutan yang telah dipaparkan di atas, di dalam TNDS juga terdapat semperai yang didominasi oleh jenis-jenis rumput musiman. Rumput musiman tumbuh di atas permukaan danau yang kering. Jenis-jenis rumput musiman ini mungkin sangat berguna sebagai makanan ikan.

Selain itu, lahan Gambut tropis tertua di dunia berada di kawasan TN. Danau Sentarum yang umumnya diperkirakan lebih dari 20.000 tahun. Luas gambut di kawasan TNDS yaitu seluas 55.338 Ha atau sekitar 41% dari luas kawasan. Jenis gambut berdasarkan tingkat kematangannya di dalam kawasan didominasi oleh gambut hemist seluas 30.608 Ha, gambut fibrist seluas 19.541 Ha, dan mineral kompleks seluas 5.189