Saat Merasakan Kekayaan Alam dan Budaya Menyatu di TaNa Bentarum

Putussibau, 16 Maret 2018. Ada nuansa yang berbeda saat melihat upacara bendera memperingati Hari Bakti Rimbawan (HBR) pagi tadi di halaman kantor Balai Besar TaNa Bentarum (16/3). Kemegahan acara diwarnai oleh keindahan pakaian adat Dayak dan Melayu yang ditampilkan beberapa peserta yang mengikuti upacara. Mengenakan pakaian adat Dayak Taman Embaloh bermahkotakan kepala burung enggang, Inspektur Upacara yang tidak lain Kepala Balai Besar Tana Bentarum, Arief Mahmud bak panglima perang Dayak zaman lampau.

“Yang saya kenakan ini baju adat suku Dayak Tamambaloh, khusus memang untuk menyemarakkan upacara HBR kali ini”jelasnya. Ditambahkannya, tujuan mengenakan baju adat Dayak dan Melayu yang ditampilkan memang untuk mengenalkan identitas TaNa Bentarum dimana kekayaan alamnya tumbuh harmonis dengan kekayaan budaya masyarakatnya.

“Ini sebagai promosi kita lah bahwa TaNa Bentarum itu memang pertemuan antara keindahan alam dan keragaman hayatinya berpadu dengan keindahan budayanya” tukas Arief saat memberikan penjelasannya.

Pantauan media, tampak beberapa peserta lain juga mengenakan pakaian adat tidak hanya busana adat Dayak tetapi juga Melayu. Kabupaten Kapuas Hulu dimana Tana Bentarum berada memang didominasi oleh dua suku besar yaitu Dayak dan Melayu. Salah seorang pegawai yang mengenakan pakaian Melayu, Ponti Astika mengatakan bahwa dia diminta oleh panitia untuk mengenakan busana adata Melayu dua hari sebelum upacara.

“Yang saya kenakan ini baju kurung Melayu, biasa dulu di pakai untuk macam ke pesta atau hari besar”tegas Tika. Menurutnya warna kuning jingga yang dikenakannya merupakan warna kebesaran masyarakat Melayu yang menggambarkan kesejahteraan dan kejayaan. Upacara kali ini memang merepresentasikan suku-suku yang mendiami kawasan TaNa Bentarum. Kawasab TN Betung Kerihun sendiri dihuni oleh masyarakat yang terafiliasi oleh Dayak Taman Embaloh, Dayak Iban, Dayak Taman, Dayak Kayan, dan Dayak Bukat dan Dayak Punan Hovongan. Mereka tersebar dari mulai DAS Embaloh di Bidang PTN I Mataso hingga DAS Kapuas di Bidang PTN II Kedamin. Sedangkan TN Danau Sentarum didominasi oleh Suku Melayu dan Dayak Iban “keragaman budaya inilah yang harus kita angkat sehingga ungkapan bahwa TaNa Bentarum Where The Richness of Nature and Culture Merge bukan slogan semata” tutur Arief saat ditanya media.

Keragaman budaya memang menjadi salah satu andalan untuk mampu meningkatkan pemasukan dari sektor wisata melalui atraksi budaya. Apa yang ditampilkan oleh Balai Besar TaNa Bentarum mungkin bukan hal yang baru bahkan banyak dilakukan oleh instansi lain. Namun demikian, hal ini menjadi sebuah terobosan baru dalam upaya meningkatkan kesadaran bagi masyarakat untuk mencintai adat dan budayanya khususnya di Kabupaten Kapuas Hulu. Selain itu eksistensi budaya dan adat setempat juga telah dijamin oleh negara sehingga menjadi bagian tak terpisahkan dalam pengelolaan hutan termasuk kawasan konservasi. “kami ingin menumbuhkan kembali budaya dan adat masyarakat lokal sehingga kedepannya masyarakat menjadi mitra utama kami dalam melestarikan kawasan Taman Nasional” pungkas Arief menutup wawancara.

Tags:

Leave a comment