Putussibau, 15 Agustus 2019. Hutan rawa gambut merupakan suatu ekosistem yang rentan. Artinya, sangat mudah terganggu/rusak dan sangat sulit untuk dapat dipulihkan kembali seperti kondisi awalnya apabila telah rusak. Hal ini lah yang mendasari Mapala Silvagama Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada melaksanakan misi penelitian dalam Ekspedisi 50 Taman Nasional di Indonesia salah satu nya Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS). Ekspedisi ini berfokus pada riset tentang objek bioindikator kelestarian atau kerusakan alam khususnya ekosistem gambut. Dalam ekspedisi ini, tim menemukan 42 spesies burung sebagai data biodiversitas, serta data biofisik gambut di dua resort yakni Resort Tekenang dan Resort Tengkidap yang nantinya akan diolah dan dianalisis setibanya di Universitas.

Dede Candra Sunarso selaku Ketua Umum Mapala Silvagama menuturkan, “Ekspedisi ini diharapkan dapat meningkatkan peran mahasiswa sebagai bagian dari Universitas Gadjah Mada yang selalu berkomitmen pada pengembangan ilmu pengetahuan dan manfaatnya bagi masyarakat luas. Tim juga telah mengambil data lingkungan yang mendukung dalam perlindungan dan pelestarian kawasan.

Ekspedisi ini mendapat dukungan yang baik dari Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BBTNBKDS), mulai dari persiapan, pelaksanaan, sampai dengan presentasi hasil kegiatan. Kepala Balai Besar dalam hal ini diwakili Kabid Teknis Ardi Andono, S.TP.,M.Sc menyampaikan harapan, “semoga data yang telah didapatkan selama di lapangan segera di proses di UGM sehingga dapat menjadi acuan untuk restorasi gambut di tahun selanjutnya”. Kegiatan ini juga sebagai Output kegiatan bersama antara Balai Besar Bentarum, Universitas Gadjah Mada dan Badan Restorasi Gambut (BRG).

Terletak di negara tropis, Indonesia dikaruniai beragam jenis flora dan fauna antara lain terhampar di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS). TNDS adalah “situs monumental” dengan hutan rawa gambut yang menyimpan berbagai macam kekayaan, mulai dari ekosistem flora dan fauna yang eksotis hingga keunikan budaya masyarakatnya.

Tags:

Leave a comment